Sunday, September 9, 2012

Test Pack: You are my baby

"Saling melengkapi". Itu kata kunci dari film Test Pack: You are my baby. 

Berkisah tentang pasangan suami istri Rahmat dan Tata yang tidak kunjung dikaruniai anak di usia pernikahan mereka yang ketujuh. Berbagai cara sudah mereka tempuh, termasuk cara2 lucu yang kadang mengundang tawa seluruh isi bioskop. Salah satunya berkunjung ke dokter bernama Peni S. - yang oleh Rahmat coba dibaca tanpa tanda titik. HA! Masalah makin runyam dengan adanya campur tangan orang tua. Campur tangan yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah desakan untuk segera menimang cucu. Segala pertanyaan diajukan yang tidak akan berhenti sampai si jabang bayi memutuskan untuk memunculkan dirinya di dunia. Tapi untuk muncul di dunia, butuh usaha dari dua pihak kan? Nah, bagaimana kalau ada salah satu yang tidak berfungsi dengan baik. Tentunya hanya tahu sendiri jawabannya.. 

Diselingi humor ala anak remaja sekarang seperti "maksud nganaaaa", film ini seakan memberi tahu realita manusia Indonesia masa kini. Semua hal diukur dengan status. Dulu sebelum menikah, pasti ditanya kapan nikah. Setelah menikah, ternyata pertanyaan kapan punya bayi akan muncul. Nah, giliran udah punya anak, rasanya pertanyaannya akan berganti jadi kapan punya adek lagi. Wahai orang lain, bisa ga sih ga nanya begitu? Tapi kalau pertanyaannya dari orang tua, mau apa? Menurut Ibu, seorang Ibu punya hak atas anak laki-laki sampai tutup usia. Itu lah kenapa tokoh kedua bernama sinta diceraikan oleh suaminya karena tidak bisa punya momongan. 

Pernikahan oh pernikahan.. Mungkin benar kata orang tua, saat pacaran itu tiang ayunan tapi saat menikah adalah tiang gantungan. Mungkin juga tidak.. 

Lantas, kenapa pertanyaan itu selalu muncul. Ada satu adegan menarik di film ini. Saat Tata dan dua temannya bertemu di cafe. Si single mengaku bahagia dengan kesendiriannya. Si Tata sedang pusing karena tidak punya anak. Sedang si teman satu lagi disibukkan dengan suami dan anak sehingga dia tidak punya waktu untuk mengembangkan karirnya di luar negeri. Si single menganggap itu adalah konsekuensi punya anak dan suami dan setengah mencibir. 

Sebagai single women living in Jakarta with a good career, i must say.. Kadang ada rasa sepi yang tidak bisa digantikan dengan gaji besar dan petualangan kerja yang membawaku ke seluruh Indonesia. Ada sesuatu yang kurang. Mungkinkah pasangan hidup? Mungkinkah ekspektasiku berubah? Bisa jadi, dan bisa juga tidak. Karena setelah melihat film ini, aku mempertanyakan pada diri sendiri, siapkah aku berbagi hidup dengan satu orang selama hidupku? Siapkah aku mengatakan, cukuplah engkau melengkapi hidupku.. 


0 comments:

Post a Comment