Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Sunday, January 27, 2013

New E-Ticketing System for TransJakarta

Bravo! Finally some smart guys in the government came to their sense and realize that Indonesia's very own busway could be equipped with E-Ticket. Governor Joko Widodo officially launched the system over the weekend and the system has been operational since 22 January. The new system is applicable in corridor 1 only at the time being and hopefully other corridor will follow soon. The ad goes like below:


This is a smart move to the conventional paper ticket where we have to queue to pay IDR 3.500 everytime we wish to board the bus. It is labor intensive yes, but it shows that the card system used before by Jakcard is not working at all. Such a waste! Since it must be expensive to buy the ticket gate.


In my opinion, the new system is much welcomed. It saves my time and paper. Talking about being "green". What unique about the news system is the card used for e-ticketing. It is not a single card like Singapore's EZLink or Malaysia's RapidKL. Jokowi used the current and increasingly popular EMoney by 5 state and private banks as the card. It is a smart move again since the system has more players and it might be hold accountable since capitalist interest might play. The five emoney used are:
                                                                            
                                   BNI Prepaid                                              BCA Flazz

                        
                           Bank Mandiri e-money                                     BRI Brizzi
 

So, what passenger need to do now is to have one of the five and you can enter the platform by touching your card to the machine which is painted in red



Looks easy and it is easy. Touch the card until the light blink GREEN. Push the bar afterward and you can go in easy. Sadly, not many seems to realize the system yet and still queue for paper ticket. So, if you have it already, start using it! It is very convenient. Moreover, many staff are now still on duty to socialize the system so if you are confuse, feel free to ask them.


Go Jakarta!

Saturday, January 26, 2013

Indonesia is indeed splendid

Tonight, I am pretty occupied with the pictures I took from my recent trip. Much to my surprise, the one that caught my attention are those ones I took last year in Samarinda, Banjarmasin and Bunaken. Gosh.. I never realized just breathtaking beauty Indonesia is actually. Okay, lets have a look..

  (Sunrise in Banjarmasin) 


 
(Pulau Galang, Riau Islands)

(sunset in Samarinda)

and my all time fave picture is below: 

(Sunset in Pontianak ) 

Should the transportation between Islands is good and well-maintained with good marketing tourism, we could be well the main tourist destination in the world. This country truly has so many thing to offer.. too many, if I may say

Wednesday, September 5, 2012

See ya soon, SHINee!!


 
 


See ya soon again, SHINee boys.. our second meeting in the blissful year of 2012 
Lets meet again at the end of year too *hugs* *love*




Friday, February 11, 2011

Celengan sapiku dicuri negara

Kok bisa??

Jadi ceritanya begini.. Beberapa hari lalu, kuputuskan untuk beberes rumah. Di tengah keruwetan bersih-bersih yang diselengi dengan bersin-bersin, ditemukanlah sebuah harta karun terpendam. Apakah gerangan? sebuah celengan bentuk sapi, terbuat dari tanah liat (yang aku yakin dibeli dari sekaten entah tahun kapan) muncul elok di tengah tumpukan baju-baju lama.

Reaksi pertama? kyyyyaaaa... celengan guuuueeee... harta karun terpendam gw! kayaknya bakal kaya mendadak nih, pikirku. Dengan semangat ala demonstran mesir menurunkan Mubarak, kuangkat celengan itu dan kularikan ke kamar ibu dan ayah sambil berteriak-teriak bangga. Niatnya menunjukkan harta karun terpendam itu, dan mungkin nanti akan ada pujian dari orang tua kalo aku rajin menabung. hehehehe...

Tau kah apa reaksi ayah? Dengan santai ayah berkata. "itu celengan dari kapan, nduk?". Dengan masih bersemangat kujawab, "Dari sma ato smp kali ya.. lupa. Yang pasti banyak, berat soale! hehehehe.." Terbayang ku recehan-recehan berjumlah banyak yang bisa kubelikan bermacam-macam hal. Buku ato bulpen warna warni.. atau cap emoticon korea!

Dengan berdebar-debar (lebay!), kupecah itu celengan. Brasa kayak di pelem2 kartun, tiba2 aku terserap dalam lorong gelap setelah melihat isi celengan itu. Koin beraneka rupa dan warna berserakan disitu. ada koin warna tembaga kuning ada yang perak. Ada yang besar, juga ada yang mini. Begitu ngeliat itu, kepikiran cuma satu hal: itu koin masih laku ga ya?

Dimulailah kegiatan memilah-milah koin. Yang koin seratus besar tipis berat. Trus uang 50 en 25 receh (masih laku ini??). Ini yang tembaga putih. Cap TIDAK LAKU langsung ditulis. Barulah pecahan uang 100 yang warna kuning. Kata ayah sih masih laku, tp cuma bisa buat dikasih ke pengamen atau pengemis. haaahh??

Uang 500, yang ternyata dua jenis itu, plus uang logam seribuan dipisah lagi. uang seribuannya masih tebel berat dengan lingkar kuning di bagian luar. Kata ayah, ini bisa buat jajan, nduk. Glek! cuma ini? setelah dihitung dengan cermat dan teliti, gabungan uang 500 dan 1000 itu berjumlah 5500.

Hiks.. celengan gw nilainya cuma 5500 rupiah. Bertahun-tahun menabung dari uang saku, hasilnya cuma 5500. hooowaaa... ini kenapa bisa begini???

Bukannya mencari kambing hitam, ini memang harus dicari sumber persoalannya. Dan ternyata, sumbernya adalah kegemaran pemerintah negara Indonesia tercinta ini untuk menciptakan dan mengedarkan uang baru. Entah tiap berapa tahun sekali, pemerintah mengedarkan uang baru. Uang yang lama entah masih berlaku atau enggak. Semua campur aduk ga jelas. Uang lama dan baru berputar kayak gangsing. Apa ya tujuannya pemerintah menciptakan uang baru tiap saat? biar percetakan uang negara ada proyek ya?

Bukannya mau membandingkan, tapi perasaan dollar AS dari dulu begitu deh rupa dan wujudnya. Uang yen Jepang dan won Korea juga begitu. Ga berubah barang sedikitpun. Pernah sih nerima uang yen lama, dibilangnya masih laku tapi sayang karena itu udah ga beredar.

Aku sadar betul pemerintah paling hobi ganti kebijakan. Ganti pejabat, ganti pemerintahan. Nama SMU berubah jadi SMAN trus berubah balik ke SMU lagi dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun. Tapi apa coba tujuannya?? Ga ada manfaatnya kalo cuma perubahan simbol semata. Persoalan mata uang juga sama. Apa sih fungsi dan gunanya merubah-rubah bentuk mata uang sesering kita ganti baju? Bukannya itu justru meresahkan masyarakat ya? Apa gara2 itu juga nilai rupiah kita ga pernah bagus lagi di mata dunia?

Ayuk, cukup dong perubahan ga signifikan ini. Kami merindukan sebuah ketenangan dalam bentuk kesinambungan kebijakan dan bentuk mata uang. Biar tabungan dan pikiran kami tidak terkuras untuk memikirkan polah pemerintah yang lama kelamaan makin tidak masuk akal.

Pemerintah, ga mau kan kalau ada anak kecil nangis di depan istana negara trus bilang"celengan sapiku dicuri pak presiden", sambil guling2? Saya akan ikutan guling2 karena saya juga korbannya.

Celengan sapiku dicuri negara, ibu.. Kemana lagi harus kucari??

Tuesday, October 26, 2010

Bangsaku yang Pemaaf dan Pelupa

"Forgiven but Not Forgotten"

Kata-kata "bijaksana" diatas, bila diartikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar bisa jadi berbunyi "kau kumaafkan tapi kesalahanmu takkan kulupakan". Dan sepertinya kebanyakan dari kita benar-benar mencamkan hal itu. Kalau ada orang yang pernah berbuat salah, pasti kita akan mengingatnya walaupun diri kita memaafkan orang itu. Kalau kata orang, buat jaga-jaga supaya orang itu ga bikin kita sebel lagi. Hayo..siapa diantara kita yang berprinsip demikian?? *malu-malu unjuk tangan sendiri*.

Tapi rupayanya, pemahaman itu hanya bersifat individual. Hanya dipraktekkan oleh pribadi-pribadi tertentu. Tidak pernah diterapkan secara kolektif, paling tidak oleh bangsaku ini, Indonesia. Maksudnya????

Mari kita tengok beberapa kasus berikut..

1. Kasus Susno Duadji yang jadi musuh publik saat pertempuran dengan Bibit - Chandra babak 1 berlangsung. Saat itu ia jadi musuh bersama publik. Tapi keadaan berubah total ketika babak ke2 berlangsung dimana Susno malah seolah jadi korban kepolisian. Publik berpihak padanya. hhhhmmm....

2. Oh Pak Harto.. siapa ya yang mengusulkan (alm) Pak Harto menjadi pahlawan nasional? Sudah lupakah kita akan apa yang kita sendiri lakukan satu dekade lalu??

3. Lumpur Lapindo masih mencuat ke muka bumi dan Abu Rizal Bakri masih melenggang menjadi pejabat negeri tercinta. Ini kenapa ya??

4. Sudah lupakah kita betapa dulu kita mendukung Bibit dan Chandra? Kemana dukungan itu sekarang mereka sudah diturunkan dan kasusnya akan segera diproses? Mungkin kita sedang sibuk dengan banjir

5. Banjir oh banjir...macet oh macet.. kata-kata itu sungguh dekat dengan kota Jakarta. Tapi pernahkan kita belajar? Setiap tahun, pelajaran yang kita ambil masih sama dan senada. Sistem drainase yang buruk, jalanan yang tidak sebanding dengan laju pertumbuhan kendaraan, dan ruang publik yang menyempit. Tapi adakah kita belajar? Adakah kita bergerak untuk tidak membeli motor dan mobil? Adakah kita bergerak untuk tidak membuang sampah sembarangan? Adakah pemerintah tergerak untuk membersihkan sampah yang selalu tampak jelas? Begitu musim berganti kemarau dan tidak ada air yang masuk ke rumah, kita semua lupa.

Iya.. kita semua lupa. Lupa oleh permasalahan lama yang tidak pernah selesai. Lupa bahwa tugas kita belum selesai. Atau sengaja lupakah kita? Atau memang kita terlena untuk diajak lupa saja?

Lupa memang penyakit manusia kok. Bagian tidak terpisahkan dari manusia. Bukan manusia namanya kalau tidak lupa. Tapi maukah kelupaan kita akan hal penting dan kealpaan kita itu terus menerus membuat kita menderita di masa mendatang? Ambil contoh banjir, kenikmatan hidup tanpa banjir hanya 6 bulan, tapi kealpaan kita untuk membereskan masalah banjir itu membuat kita sengsara 6 bulan kemudian. Bila kita terus menerus lupa, bukankah kita akan terus menderita? Kita seperti di lingkaran setan yang tidak pernah berujung pangkal dan berakhir.

Bangsaku yang sungguh pemaaf.. dan juga pelupa.

Yuk.. kita jangan jadi bangsa yang pelupa. Kita boleh jadi bangsa yang pemaaf karena memaafkan itu menunjukkan kita berbesar hati. Tapi jangan lupa.. Itu awal dari segala bencana. Bila kita tahu sistem drainase kita buruk, bahwa mobil sudah terlalu banyak, bahwa lapindo harus terus diurus, atau kasus century harus terus diusut, mari jangan lupa dan terbelokkan.

Mari membangun sistem drainase yang baik. Mari sisingkan lengan dan berjuang untuk tidak membuang sampah sembarangan. Mari kita menjadi media yang baik dan menyiarkan hal yang sebenernya, sesuatu yang tidak membuat kita lupa akan kesalahan masa lalu. Kalau memang membuat subway tidak dimungkinkan untuk mengatasi kemacetan (beneran ga mungkin ya?), bisa kan kita ga naik mobil pribadi terus? atau ada yang tergerak untuk membuat trotar dan memfungsikannya dengan baik?

Kalau kita sebagai individu bisa menjadi orang yang pemaaf tapi tidak pelupa, kenapa sebagai bangsa kita tidak bisa? Ayo!!

Sunday, October 17, 2010

Ini bukan soal tampang, bung!! Ini soal cerita..

"Masyarakat Indonesia itu memang suka yang multikulturalisme kali ya. Ngerti ga ngerti bahasanya, asal tampang ganteng. Langsung sikat"

Itu dia komentar salah satu aktris Indonesia waktu ditanya soal kesuksesan drama Korea di Indonesia. Komentar yang bisa dibilang bodoh. Pertama, karena enggak ngerti arti kata multikulturalisme. Jelas kata itu ga ada sangkut pautnya kita suka tampang ganteng ato enggak. Kedua, emak gw aja bisa langsung nyaut "pantesan aja itu anak2 muda yang ngerasa dirinya cakep langsung jadi artis. modal tampang ga bisa akting. mentang-mentang kalo artis dipikir langsung tajir. mending juga liat Emak naik haji. bermutu biar ga ada yang cakep. bagus lagi muatan islaminya".

You got it, Mom!!!

Berhubung diri sendiri penggemar sinetron asia yang produsennya entah dari Cina, Korea atau Jepang, tak kasih tau ya kenapa drama-drama mereka booming di Indonesia. Tentu aja dibanding dengan sinetron Indonesia.

1. Jumlah episodenya ga panjang.
Jepang dengan kejam cuma membatasi sekitar 10-15 episode. Cerita panjang cuma ada di taiga drama alias film drama sejarah yang jumlahnya bisa diitung pakai jari tiap tahun.
Korea membagi sinetronnya menjadi 3. Drama pagi yang kurang ajar panjangnya sekitar 100an meski patut dicatat itu durasinya cuma setengah jam. Drama kolosal yang berkisar antara 60-70 episode, kayak Dae Jang Geum. Trus sinetron prime time yang slotnya masih dibagi jadi dua. Sinetron yang slotnya berkisar angkat 30 dan 20an.

2. Tampang emang penting, tapi cerita juga ga kalah penting.
Jangan salahin tampang artis luar yang emang keren untuk menjustifikasi sinetron indonesia yang melempem. kalau dilihat artis jaman sekarang, gw akuin kok kalo tampang artis kita oke punya. Gw selalu kekeuh menganggap Zumi Zola, Darius Sinatrya, Tora Sudiro ama Nicolas Saputra itu cakep. Artis cewek kita juga begitu kok. Banyak yang cakep, seperti penuturan adek dan temen2 cowok gw. Bedanya, itu sinetron Indonesia suka ngelantur ceritanya. Mari kita ambil contoh Tersanjung dan Cinta Fitri. Itu dua sinetron booming banget di awal penayangannya. tapi begitu serial itu dipanjangin ampe hitungan tak terhingga, langsung deh keok. Alasannya sederhana aja, penonton udah males nonton karena ceritanya emang udah ga jelas. Udah ngelantur kemana-mana dan terkesan dibuat buat. Penuh intrik dan penderitaan tak berkesudahan, persis realita penduduk Indonesia. Kita nonton drama kan pengen dapet hiburan, bukan gambaran semu yang aneh bin ajaib. Cobalah sinetron kita ga pake acara dipanjang-panjangin, pasti booming.

Jadiiii... Yang penting itu bukan cuma tampang doang, bung! Cerita dan jumlah episode juga sangat membantu. Biarpun sinetron kita bertabur bintang cakep, kalo ceritanya ga jelas, ga dilirik juga. Makanya, drama korea atau jepang bisa mencuri perhatian masyarakat. Jangan salahkan kimbum, rain ato lee minho kalo mereka cakep juga. hahahaahaha..

Anyway, kita masih hebat juga kok. Tayangan di tv kita masih ada yang bermutu dan film yang tayang di bioskop juga masih oke.

1. Yang menyentuh hati itu pasti booming, tapi sayang kadang tak berarti rating
Tengoklah acara upin ipin yg lagi heboh itu. Setelah melihat ponakan sendiri cinta mati ma upin ipin, akhirnya niat juga nonton itu program. Ternyata bagus! pesan moralnya ada dan ide nya sangat kreatif. Itu yang disebut drama multikultural ketika tokoh-tokoh di dalamnya diceritakan berasal dari etnis yang berbeda. Kita punya??? Jelas ada!! Kita punya kok tontonan bermutu macam upin ipin. Tengoklah Kick Andy, Bolang, ato si Unyil. Beruntunglah ketiganya masih menyambangi layar kita. Jadi kita masih ada tontonan yang menghibur di kala semua sinetron kita lagi ga bener.

2. Sinetron boleh keok, tapi film Indonesia sangat berjaya!
Pas pulang ke solo, kaget ngeliat layar bioskop disini nyatanya diisi oleh film Indonesia. Tidak hanya di satu layar, tapi hampir di semua layar. Sebutlah kemarin itu ada Sang Pencerah dan Laskar Merah Putih. Sebelumnya, ada Laskar Pelangi, Merah Putih, Garuda di Dadaku, Emak ingin Naik Haji, Naga Bonar (jadi) 2, Ayat-ayat Cinta, dan masih banyak lagi. Hebat kan kita?? Kalau dilihat, emang ada yang cakep gitu maen disitu? Yah, di pelem Merah Putih emang iya. Tapi lainnya? Mereka menang di alur cerita yang bagus dan membumi.

Ada perasaan senang dan bangga melihat film anak negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Semoga sinetron kita juga begitu dan tidak melulu menyalahkan mereka si artis luar yang bertampang oke sebagai kambing hitam kemerosotan kualitas sinetron kita. Ayo, bikin sinetron yang sederhana dan menyentuh. Kayak si Doel jamannya masih ada Benyamin atau Keluarga Cemara, atau Losmen-nya Pak Broto. Aku rindu sinetron-sinetron itu...

Wednesday, October 13, 2010

To Travel in Indonesia (Air Edition)

Travelling never as compelling as challenging as in indonesia. It is always a pleasant experience for sure, wondering the beautiful country. Many places to visit, many mountains to climb, and many journey to enjoy.

But when it comes to the transportation system, welcome to the world of multiple painkiller. You need a dozen painkiller to reduce the pain in your back, hand, head, stomach, and most importantly your heart. Let me tell you why you need such a medication, this time when you travel by air.

First, the domestic flight is usually late. Ranging from half an hour to unlimited. Make sure to bring a book, mp3 player, or a partner to talk to.

Second, people loves to dislike queing. As long as they can check in first, they will do anything. Suck!

Third, baggage stuff. Becareful not to say yes when someone offer you to wrap your bag. It is truly a protection system, yes. But notice that wrapping system is better for long-range flight which acquire you a transit somewhere in the journey. For example, if you travel to batam or any other part in indonesia outside java island from small airport like in solo or Yogyakarta, you will most likely make transit in Jakarta. Or vice versa. But for one direct flight with a range of an hour, better keep it wrap with yellow band. You can find the counter near check in desk, usually.

And notice that wrapping system is not obligatory. It is your choice! Just make sure that your bag is securely locked, here and there.

Fourth, if you are travelling with heavy luggage, you can always ask for a porter help. It just that you need to pay them a good fee.

Fifth, if you are a kind of people who easy to get hungry, make sure to have something to eat before the flight. Most domestic flight doesn't have in flight food service.

Sixth, be open and kind hearted. usually you gonna meet a person you already know or the person next to you will become your friend after the end of the flight. So much Indonesian.

Seventh, never turn on your phone literally a second after the plane touch down. It is forbidden! As the navigation system is still working. But Indonesian never seems to learn that.. So be patient when you heard a welcome sound of cellphone or even sound of incoming calls from many other passengers. Tell them the truth, if you wish. I told many already, but no one seems to care. Well, just start from ourself then.

Okay then.. I guess that's it for today. Good day and have a pleasant journey, everybody ^_^

Wednesday, October 6, 2010

A note for the future: to be the water or to become a Japanese

For the past few months, all i have been thinking is what my future would be. To return to Indonesia or not was simply a choice, but I choose to pick the idea. I was so afraid of the future as if the bleak future awaits at the end of the corder. While the truth is, no one knows what the future holds.

Walking toward the future is like walking in a long dark tunnel. Without any light, any map, or any sign that there is a way out. We might carry some candles, but we don't have the match or lighter. We are in a complete total darkness. Sometimes, we just wish that we could turn on the light and run faster.

But a friend reminds me this morning, that we have an alternative on how to move forward. Not by turning the light on the candle, but to make a new tunnel! yes, a new tunnel for ourself. Don't follow the path that has been laid out, make our own path.

So much his word, it reminds me of what Ibu Dewi once told us. "Dont act like water, try to become a Japanese". What does that means? Water usually will go along the streamline. Its shape will follow what it hits. If it hits a tree, then it will follow the shape of the tree trunk. If it hits the table, it will follow as well. But try to become a Japanese. It means that you dig the mountain, make a new tunnel for a new road or railway. Or to make a highway under water, like one in Odaiba, Tokyo.

Be brave and be bold. Quoting a friend," you need no candle, you need a hoe (cangkul)"

Yoooosshh.. Gambarou!

p.s. I would like to extend my utmost gratitude to a dear friend for giving me a time of peace when she said, "returning to Indonesia is not a bad idea. It feels like a bouncing ball. Indeed, you bounce to the bottom but the ball bounce back to the air even higher than before. So don't be afraid. You are coming back to Indonesia only to raise higher". Your word saved me.. Thank you..


Kyoto, 3 September 2010

Tuesday, October 5, 2010

Demi sebuah musim yang bersemu merah

Catatan akhir di Kyoto,

seindah sinar rembulan di musim gugur,
secantik semburat lembayung di musim semi,
seelok warna senja di musim panas,
seputih hamparan salju di musim dingin,

Dan catatan awal di Solo,

seenak makan selat solo sambil becanda
selezat makan tengkleng kambing di bawah gapura
senikmat minum es buah di tengah terik mentari
semantap makan sate sambil mengobrol diatas tikar lusuh


Bedanya?
Disana aku menikmati musim yang indah dan cinta yang mekar
Disini aku menikmati makanan yang lezat dan hidup yang menantang
Viva HIDUP

Setitik Hikmah dari "Sang Pencerah", Agama itu Hati dan Akal

Semenjak pulang ke Indonesia, aku memilih untuk menonton serangkaian film karya anak negeri sendiri. Disamping promosi teman-teman sedari aku di Jepang, serangkaian review yang kubaca di internet menarik minatku. Maraton itu diawali dengan film "emak ingin naik haji", dilanjut dengan "garuda di dadaku", "merah putih", dan terakhir "sang pencerah". Dan ada sesuatu yang terasa spesial dengan film "Sang Pencerah" yang baru saja kutonton malam ini.

Sang Pencerah bertutur mengenai perjalanan KH Ahmad Dahlan dalam meluruskan praktik agama Islam di Indonesia pada awal abad 20. Terlahir dengan nama Muhammad Darwisy, KH Ahmad Dahlan memulai perjalanannya dengan melakukan haji di kala usianya baru 15 tahun. Haji itu dilanjutkan dengan belajar agama Islam selama 5 tahun. Sepulangnya ia ke Indonesia, ia melanjutkan dakwahnya dengan menjadi khatib Masjid Besar Yogyakarta. Namun, ketidaksepakatan atas arah kiblat dimana KH Ahmad Dahlan memberikan arah yang baru mengakhiri karirnya sebagai khatib. Hampir saja ia berputus asa ketika langgarnya di rusak setelah perseteruan itu. Namun, dorongan kakak perempuannya membuatnya tetap tinggal di Yogyakarta untuk melanjutkan dakwah. Setelah itu, berbagai upaya ia lakukan dalam meluruskan praktek Islam yang kala itu masih kental dengan nilai-nilai mistik atau budaya kejawen. Upaya-upaya itu akhirnya bermuara pada pembentukan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Pendidikan adalah kunci dari upayanya mencapai apa yang temaktub dalam Surah Ali Imran 4, melalakukan amar ma'ruf nahi munkar.

Dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah sedari kecil, film ini cukup mengguncang aku. Sungguh dangkal pengetahuanku mengenai lingkungan sosial tempat aku dibesarkan. Dalam benakku selama ini, Muhammadiyah lebih pada mengajarkan nilai-nilai mendalami Islam secara lebih modern, tidak terikat dan sangat toleran. Menjadi bagian dari Muhammadiyah berarti mempraktekkan Islam dari akal. Memakai hati terlalu banyak akan terjembab dalam ekstrimisme agamis yang sayangnya selalu aku salah artikan dengan budaya manut ulama seperti dalam budaya NU. Kembali, aku terjebak dalam lingkaran setan perseteruan NU - Muhammadiyah yang sudah menjadi rahasia umum.

Film ini seolah mengingatkan aku kembali bahwa agama itu dipraktekkan dengan dua hal, akal dan hati. Momentum itu datang saat adegan dimana KH Ahmad Dahlan mengajar untuk pertama kalinya di sekolah Belanda. Saat itu, ucapan salamnya dibalas dengan kentut oleh salah satu murid keturunan Belanda. Dihadapkan dengan situasi tersebut, Kyai Dahlan bertanya kepada semua muridnya siapa yang mau kentut lagi. Saat tak satupun muridnya menjawab, ia lantas menjelaskan betapa besarnya nikmat kita bisa kentut. Kalau kita tidak kentut sementara perut kita terus diisi dengan gas, maka niscaya perut kita akan meledak. Untunglah, Tuhan sayang pada manusia. Sehingga diberikan-Nya setiap manusia alat pembuangan agar ia bisa kentut dan buang hajat. Dengan itu, manusia bisa makan atau minum sepuasnya. Sungguh besar kasih sayang-Nya pada manusia, alat pembuangan itu diberikan secara gratis.

Segratis udara yang kita hirup. Filosofi yang sama yang diajarkan oleh ibu bertahun-tahun lalu. Kala itu, aku dirawat di rumah sakit karena asma yang muncul setelah aku dikagetkan dengan letusan balon gas di taman. Sebuah trauma yang harus kuakui masih bersisa hingga hidupku yang setua ini. Saat dirawat, ibu tiba-tiba bertanya padaku apakah aku tahu betapa banyak uang yang harus dibayar untuk tiap tabung udara yang kugunakan untuk menopang hidup selama di rumah sakit. Saat itu ibu bilang, untuk satu tabung udara, ibu membayar sekitar 15 ribu rupiah. Berarti sudah 60 ribu dikeluarkannya untuk 4 tabung udara selama seminggu aku dirawat. Lantas ibu bertanya, pernahkah aku bayangkan betapa besarnya uang yang harus kita bayar untuk semua udara yang sudah kita hirup agar tetap hidup.

Dan filosofi gratis itu muncul kembali. Untungnya, Tuhan sayang pada manusia. Diberikannya udara itu gratis. Gratis tanpa ada pungutan biaya apapun. Gratis pula alat-alat pernapasan yang kita miliki. Jadi kita tidak perlu membayar apapun untuk bernapas dan hidup. "Oleh karena itu dek, berterimakasihlah terus pada Allah. Allah yang sudah memberikan udara gratis. Cobalah sholat yang bener, ngaji yang bener. Itu bisa jadi ungkapan terimakasihmu pada Allah", pesan ibu kala itu. Sebuah pesan yang hingga kini selalu menjadi pengingat bagiku bahwa agama itu memang butuh elemen hati dan akal dalam menjalaninya.

Cari kebenaran itu melalui akal, baru percayai dan lakukan. Kita menemukan alasan kita sendiri untuk melakukan ajaran agama, sebuah hal yang sebetulnya susah mengingat banyak hal dalam agama yang terkadang harus diakhirkan dengan kata "itu sudah ketentuan dari sana-Nya". Seperti kenapa kita tidak boleh makan babi misalnya. Semoga segala yang gratis itu terus menjadi pengingat kita.

Indonesia: a supermarket of disasters, a theater of jokes, a country of anomaly (part 1- social media)

What you cannot find in another country, you can find it in Indonesia. Not only certain thing, but almost everything. But, what you can easily find in another country, you might find it hard to see in Indonesia.

Recent social media survey on twitter and facebook reveals that Indonesia comfortably sit as world's third biggest user of facebook and tweet producers. In general, it looks like Indonesia is a technologically savvy community that can put themselves as equal as US and Japan. You might also imagine Indonesian carrying their smartphone everywhere, from bathroom to boardroom. But i guess, imagination can be misleading, sometimes..

If you are an Indonesian or ever visit Indonesia then live like normal Indonesian do, you might find it strange how Indonesian could somehow project themselves as very savvy in technology when living savvy with public transportation means you are bound to loose your magic phone. You can only become savvy when you are at home, office, school or supermall. Well, I might not be in Indonesia for 2 years now, but the last time I came back home, that’s how things went. When I was in supermall, there were blackberry everywhere. Everyone seems to have one. pip..pip..pip.. Even when they have their friends around, the hip and hop in facebook and twitter is still as important. Especially nowadays, Jakarta people could be proud for having their own social media called ‘koprol’ (if you ever heard about it) that allows you to find friends whereever you are. Specially in big mall, the only place you can go for spending time and money.

Let say compare to Japan. If you ride a train or bus, there are one rule that you have to follow. To make yourself comfortable, try to do one of these things: sleep, listen to your mp3, playing games, read books, or doing something with your phone. Other than doing that, you are doomed! You cannot standing or sitting idly or asking people to talk like in Indonesia. That is just so no no! So, the most easily spotted activity, phone! Or even better, one can listen to their mp3 while holding phone at one hand and gamebox at the other. Why they do that? because it is safe to do so. Public transportation is a safe place to do whatever you like including showing off your latest most advanced gadget. Plus, the internet in Japan is way freaking fast. me? sleep ;p

Then, why we are in that hot spot of worlds’ third twitter and facebook users? do we really that savvy and hip? Thanks to cheap smartphone widely distributed nowadays, it is understandable. But who are the user? how is the demographic mapping? do people from small city or rural area outside java even knows what twitter is all about? could it be that the real users (for twitter, as for facebook i guess the number is a lot bigger) just several hundred but they tweet like hundred everyday? most likely to be that case.

Then suddenly I remember one day after North Korea huge defeat 7-0 to Portugal in World Cup. I told a friend, If world cup allows such a game, Indonesia should be allowed to join world cup too!. He just answered, “nope, because there are hundreds of thousands of children still suffer from diarrhea (due to bad environment and hygiene)”. spot on! So, while we are having this problems (let me list: disasters, corruption, porn video scandal, health malpractice, FPI, etc), how do we stand in the highspot of newest technology trend? while we are in number 3 for facebook and twitter, we are also in the top spot for being the most corrupt countries in the world. what an anomaly (>.<)

I know we cannot stop using facebook and twitter. It is useless since for me, they are now Indonesian new version of “warung kopi/coffee shop” where people can connect and talk to each other. Indonesian is just social people by heart. The question is, can we use it in a smarter way? for the better of others too? If not, then the anomaly of social media habit in Indonesia will always be an anomaly.

One thing about facebook and twitter, or friendster, or hi5, or multiply, or whatever is that by using them, we make people far from us closer but drive people close from us further. you choose ;p

originally written on 2 July 2010

Sunday, July 4, 2010

The Warrior of Peace

It supposed to be a normal discussion with Honna sensei, my supervisor. I asked for his permission to not enroll in any seminar class next semester for the sake of my field research. I am planning to do field research for my thesis this year. Taking full two months in Indonesia since i have no obligation to put more credits to my account. And, he said yes. YES!!

What came next was the one that surprised me the most. When Sensei talked about the riots that felt like yesterday for him, I finally found an answer for my long interest on conflict and conflict resolution. I have been so occupied with this topic, that i don't think any economic-related topic to be more interesting. And the answer is none other than 1998 Riots in Solo, my hometown.

Back then, I was just a high school student. third year. It supposed to be a regular day. Taking computer class for 2 hours as compulsory extra class (oh, since when extra class become compulsory?? ). But that day turned out not to be just another day. It was the day when the riots sweep away the city and turned it down for at least 3 days. It was the day when all "hatred" took control of the so-called peaceful and humble city and turned it into a ball of fire.

I remember my mom called me through school phone and told me to stay at school. She sounded so panic when she told me that angry mass of people were marching toward the center of the city. There was no way from me to come back home alone as my home is exactly at the center. Mom told me to wait at school and waited for my dad to pick me up. But the time went and dad called that there was no way for him to pick me up. So, as time goes by, our principal suddenly asked us to evacuate from school. I went to my best friend's house which luckily located nearby. It was so weird as the police headquarter is just right in front of our school. Shouldn't we safe at school than any other place on earth?

Anyway, i moved to my friend's house. And exactly at 9 o'clock, the city was dark. no light.. and flames started to pull its wings to the sky. I was so worried and afraid.. But what can I do? I could only wait for my dad. Thanks God, dad able to pick me up at midnight. Riding his old ugly bike, we tried to cross the city of fire and angry people. Then a shout stop us.. asking who are we and where we are heading. Looking at our face as if we were their enemy. The one that should not be safely alive that night. God has been so merciful.. we safely arrived home.

But the next three days or so, there was no such a thing called peace. There were only anger, anger, and violence. Burning became such an easy spot, even the city hall was burned. A city hall that had been so proudly claimed as the only building built based on our first President Soekarno's blueprint. Then it was gone. Why? What kind of hatred was it?

I still remember all those angry faces...
I still remember the feeling of crossing the city of fire..
I still remember the high tension when people tried to burn our neighborhood just because some people from minority race lived at the tip of the neighborhood.
I still remember all the sadness and worries
I still remember the crying from my neighbor that loose their beloved son in the burning accident...
I still remember those days where food was so scarce
I still remember the figure of my father, stand so firmly with other man to protect the neighborhood
I still remember all...

I remember and I remember
And all the memory apparently well kept all these years
The memory that guides me to choose my work
So, i choose conflict and conflict resolution because I don't want to see more conflict
I choose to study ethnic conflict resolution so there will no more us killing each other just because we look different
I choose to study electoral conflict in local politics so there will no more us conflicting each other just because the result doesn't suit our best interest

There was nothing good coming out of conflict
I hate conflict...
But we live with it, don't we?
We live with it.. yet, we have to find ways to overcome it..
We live with this ugly side of us..
Yet, we also have our good side

Together, we can become warrior of peace
for us, and for our children
May peace come to my homeland..and the world

originally written on 29 July 2009

Thursday, August 20, 2009

Its time for Indonesian music

ndonesian songs never actually been my favorite. My iPod usually is dominated with Korean, Chinese or Japan music. Especially Japanese songs when I was about to depart to Kyoto for school. But since I landed my feet here, I just want to listen to Indonesian songs, over and over again. I have to admit that some Japanese songs were really stuck in my head during my first two months in Kyoto. Yet now! I can't help not you scroll my fingers in youtube to listen to Indonesian songs, new one. And I found that some of them are really good, something that I never openly admit before. Like what my friends did the other day, we just listen or download them when we get really bored.

Perhaps, I always take Indonesian music for granted. When I was at home, I could listen to it every single day. I didn't have to go to youtube to listen to it. All i need to do was just turn my tv on at 9.00 in the morning, and there were 2 music programs live. Or turned my radio before i sleep, and I could listen to some oldies ones. But here, in Japan, I cannot do that. Suddenly, I miss all of that. I miss listen to music that I can understand in an instant. A music sang in my mother tongue. A music that can moved my heart and my mind without taking any effort to translate them. A music that has been with me for so long, a good friend that never ask for more. The one that I take for granted. And when I loose it, I miss it so much coz I finally realize how precious it was. Thanks God that it is Indonesian music. I can reach it back, bring it back into my life. An easy one..

I realize that we, human, probably take so many things for granted as well. Like myself, probably, I never realize what that things were until I lost it. And usually, it is so precious that we cannot ask any technology to help us bring it back. I hope I can be smart enough to realize that precious things, cherish it while i have it. I am happy though, I have found one. It called friendship.. A friendship that complete me, my comfort zone


Originally written on december 4, 2008

Obama wins and the fact that MacBook hates school

The topic of the day is none other than US Presidential election 2008. There was no single thought in my mind that my usually-boring global cooperation class turns into a lively class today. The professor suddenly halt the class every 45 minutes just to update the result of the election. And suprisingly, every one in the class seems to be very excited to know whether Obama will become US president or not. We are kinna Obama`s fans all of a sudden. Even the professor made a joke. He said that if Obama wins, he will get drunk but with champagne. But if McCain wins, local beer is enough. The serious professor is not that serious! This is amazing, really.

Obama histeria is really everywhere. Not in US, oh i wont complaint on this, or Japan or my beloved country, Indonesia. When I read local website in Indonesia, it said that students at Menteng elementary school where Obama used to study hundreds years ago i guess, celebrated the win as well. Wow.. isn`t that surprising? I actually never understand the whole US election system, let alone to understand double system of electoral votes and popular votes. But these kids actually hold Obama`s picture in their hands celebrating his wins. If my memory serves me right, there was no such histeria when Susilo Bambang Yudhoyono was elected as a president 4 years back. And to keep in mind, he is INDONESIA`s president! even one of Indonesia`s biggest news station never in history broadcasted US party convention. Yet, it broadcasted LIVE Democratic Party National Convention when Obama gave his moving speech. Something that this news station never did when it comes to its own country`s presidential election. But waaiitt.... we don`t have good presidential debate, let alone party convention. Amazing!! I guess.. I will just suggest Indonesia to cancel the 2009 election because we can start thinking that Obama is our president. Yay!!

And another striking fact that appear in my life today is that my macbook is really not the weird one. When the professor made presentation explaining nuclear policy in France, his macbook Pro started doing rebel movement too. It kept refusing to appear in presentation mode. or in another word, it just came back to its original PDF version. He even cannot register this fact into his mind. Well professor.. you have the same fate with me. My beautiful white macbook did the same thing too. Everytime I brought it to school, it suddenly turn into hot mode and became soooo noicy. The noice hung like a bee. Gosh..it was really bad. I felt like it really unhappy to be in the school for any reason. Yeaahh... I guess, macbook hates school anyway. so, from now on I have to use school computer then. Its free and social anyway. hehehehehee...

OK...Its time to go to Obama`s party then.. ^_^



originally written on November 5, 2008

Wednesday, April 30, 2008

Pisang 5 dikurang 3 ala putra Papua

Kisah ini diceritakan oleh seorang peneliti dari LIPI ketika saya berkesempatan untuk mengundang beliau dalam sebuah acara diskusi mengenai Papua dan kebudayaan mereka. Sungguh banyak kisah yang beliau ceritakan sampai saya merasa sangat miskin pengetahuan mengenai saudara saya yang berada di ujung Indonesia tersebut

Diantara semua cerita itu, ada satu cerita yang sangat berkesan untuk saya. Sebuah cerita yag memperlihatkan betapa kita, terutama yang berada di daerah yang bernama Jawa, sungguh tidak tahu menahu seperti apakah orang Papua itu sebenarnya. Kita selama ini hanya hidup dalam stigma atau persepsi seperti apakah orang Papua itu.

Cerita ini terjadi di dalam sebuah kelas di pelosok Papua. Seorang guru laki-laki dari Jawa sedang memberikan pelajaran kepada murid-muridnya yang masih duduk di bangku SD. Hari ini, Pak Guru mengajarkan matematika. Di tengah pelajaran, dia bertanya kepada salah seorang muridnya

Pak Guru: "Nak... Kalau kau punya 5 pisang. Dan kemudian kau makan 3 buah. Berapa sisa pisang yang kau punya?"
Murid: "Pisangnya masak atau tidak, Bapak"

si Guru keheranan dan bertanya kembali

Pak Guru: "memangnya apa bedanya kalau pisang itu masak atau tidak?"
Murid: "kalau masak, pisangnya tentu saya makan semua, Bapak"

sebuah jawaban yang anda tidak akan anda sangka bukan? Sebuah kecerdasan alami gaya seorang murid. Dan pengaruh dari kebudayaan lokal mereka yang terbuka dan sangat menghormati alam. Sungguh kita telah sangat tidak toleran bila mengabaikan masyarakat Papua dan cara berfikir mereka. Karena mereka adalah guru terbaik mengenai alam.

Tuesday, April 15, 2008

The Messiest Place on Earth

Kalau bukan karena Kay dapet mimpi buruk ttg sebuah daerah bernama pasar minggu dan ibu-ibu penjual buah, rasanya malas menerbitkan tulisan ini. Dalam mimpi itu, aku pulang dari kantor lewat pasar minggu dan sesampainya disana, aku meminta dengan hampir menangis kepada dua orang ibu yang berjualan buah di sepanjang jalan pasar minggu itu untuk minggir ke area yang lebih luas, karena jarak mereka dengan kendaraan bermotor terutama bisa sungguh dekat. Rasanya sungguh mengerikan karena mereka membahayakan nyawa mereka sendiri. Namun, mereka rupanya enggan pindah dan aku harus sampai berulang kali meminta mereka pindah. mereka akhirnya pindah namun aku tahu, mereka akan segera menempati tempat lamanya keesokan hari. Dan inilah mengapa sungguh membosankan menuliskan sebuah hal yang tidak akan pernah bisa berubah sepanjang anak negeri Indonesia ini masih hidup. Eniwei, demi menghilangkan kekacauan pikiran, lebih baik aku menuliskannya saja..so, here we go...

Buat anda yang tinggal di Jakarta, pasti udah ga asing lagi dengan segala macam kesemrawutan tata kota, mulai dai jalan, pasar, gedung, bahkan sekolah. Semuanya dibangun tanpa ada sense tata kota yang baik. Pernah beberapa teman bilang, asal ada duit, IMB pasti keluar. cingcai lah itu...Apa hasilnya? kesemrawutan, ketidaktertiban, dan banjir...(bila ada pepatah yang bilang "siapa yang menanam angin, dia yang menuai badai..Jakarta adalah contoh yang paling tepat!)

Dan ngomong2 soal tempat yg semrawut di Jakarta, rasanya sulit untuk tidak menyebut pasar minggu. Daerah ini bisa dinilai salah satu yang paling semrawut disana. Dulu, sepanjang jalan menuju pasar minggu selalu dipenuhi dengan pedagang, mulai dari pedagang baju, buah, sayur sampai elektronik. Semuanya berserakan sepanjang hampir 1 kilometer. Akibatnya, jalanan yang harusnya 5 jalur, hanya jadi 2 jalur. Maka, terjebak dalam kemacetan selama 15 menit untuk melintasi pasar minggu dianggap sebagai satu hal yang WAJAR.

Keadaan semrawut ini coba dirubah dengan adanya penertiban massal sekitar sebulan yang lalu oleh Satpol PP dan Pemda dengan "senjata" Perda No. 8 tahun 2007 tentang ketertiban umum. Selama "pembersihan" di malam hari, semua pedagang digusur dan harus masuk ke pasar. Sepertinya ada penolakan karena keadaan di pasar minggu terus tegang beberapa hari setelahnya. Pemda juga membagi jalan menjadi 3 jalur. Jalur paling kiri untuk kendaraan yang menuju ke arah terminal pasar minggu. Jalur tengah untuk yang mau ke arah pancoran dan depok. Sementara jalur paling kanan untuk kendaraan arah sebaliknya ( ke arah mampang). Upaya pembagian jalan ini sepertinya dimaksudkan agar para pedagang tidak kembali berdagang. dan jalan yang selebar 5 jalur itu tetap terbuka. Sungguh ajaib memang, jalan itu ternyata memang lebar. Bahkan pembersihan itu menyibakkan betapa kompletnya fasilitas umum di pasar minggu seperti kantor pos, puskesmas, kepolisian, departemen pertanian, bank, sampai dunkin donuts.

Tapi seperti yang selalu terjadi di negeri ini, efek dari pembersihan itu hanya sementara. Setelah sebulan berlangsung, para pedagang itu mulai kembali lagi ke pinggir-pinggir jalan. Mereka mulai menggelar lapak atau gerobak di sepanjang jalan. Akibatnya, pasar minggu kembali semrawut, meski tidak sesemrawut dulu.

Kesimpulannya??? Apa kata tertib dan nyaman itu tidak akan pernah sejalan dengan orang Indonesia? Mengapa semboyan "kebersihan sebagian dari iman" itu hanya jadi slogan belaka di negara yang mengaku agamis ini? Tidakkah kita semua mencintai keindahan dan kenyamanan? atau orang Indonesia memang "bahagia" dengan kesemrawutan? sungguh ironis betapa kenyamanan itu ada di negara-negara yang mengaku sekuler atau tidak agamis sekalipun. Dan semoga rasa indah dan nyaman itu bisa terdefinisikan dengan baik di hati saudara-saudara ku kelak kemudian hari

Gosip Jalanan

Udah denger kehebohan DPR menuntut grup bank Slank atas lagu mereka berjudul "Gosip Jalanan" kan? Kehebohan ini rasanya mulai sekitar 1-2 minggu yang lalu. DPR bahkan mengajukan tuntutan resmi atas pencemaran nama baik. Bahkan salah satu anggota DPR, Gayus Lumbun memberikan beberapa pernyataan bahwa para anggota DPR dan keluarga mereka sangat keberatan dengan lirik dari lagu "gosip jalanan" tersebut. Mereka merasa itu sangat mendeskreditkan citra anggota DPR di tengah perubahan yang tengah mereka coba lakukan. Sungguh lucu memang anggota DPR baru melayangkan keberatan mereka sekarang padahal lagu tersebut sudah disebarluaskan sejak 4 tahun yang lalu.

Mau tahu liriknya kaya apa??
here you go

Gosip Jalanan - Slank

Pernah kah lo denger mafia judi
Katanya banyak uang suap polisi

Tentara jadi pengawal pribadi


Apa lo tau mafia narkoba

Keluar masuk jadi bandar di penjara
Terhukum mati tapi bisa ditunda


Siapa yang tau mafia selangkangan

Tempatnya lendir-lendir berceceran

Uang jutaan bisa dapat perawan

Kacau balau 2X negaraku ini


Ada yang tau mafia peradilan

Tangan kanan hukum di kiri pidana

Dikasih uang habis perkara

Apa bener ada mafia pemilu

Entah gaptek apa manipulasi data

Ujungnya beli suara rakyat

Mau tau gak mafia di senayan

Kerjanya tukang buat peraturan

Bikin UUD ujung-ujungnya duit

Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar

Pake peci tapi kelakuan barbar

Ngerusakin bar orang ditampar-tampar


Ketika tuntutan ini makin meluas ke publik, giliran DPR benar kena tamparan pas salah satu anggota DPR dari fraksi PPP tertangkap tangan oleh KPK sedang menerima uang suap disalah satu hotel di kawasan Jakarta. Akhirnya, DPR pun dengan malu harus mencabut dakwaanya ke Slank.

Sungguh ironi memang apa yang dilakukan oleh DPR. Mereka terkenal sebagai biang kerok semua kerusakan perundang-undangan sekarang. mereka memang tidak lebih seperti mafia yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan mereka sendiri. Ketika ada pihak yang berupaya memerangi kejahatan mereka, mereka menyerang balik dengan sangat kejam. Apa jadinya negara ini ketika upaya "amar makruf nahi munkar" dinilai sebagai hal yang salah...

Saturday, April 12, 2008

Demi selembar Kartu KUNING

Cerita ini merupakan kelanjutan dari cerita umrah dan segala macam tetek bengeknya kemarin. Jadi, seperti yang udah dijelasin, setiap calon jamaah umrah harus memiliki kartu kuning. kartu kuning ini adalah bukti bahwa dia sudah divaksinasi MENCEVAC ACWY aka meningitis.

Jadi kemarin, gw harus ke bandara Soekarno Hatta untuk mendapatkan vaksin ini. Sungguh malang tidak dapat dilawan. Sesampainya disana, pendaftaran vaksin sudah ditutup karena vaksinnya habis. diulangi lagi ya...HABIS!! sementara antrian "pasien" masih berjumlah 290. Mohon tidak dimasukkan diriku yang belum terdaftar. Padahal semua jamaah sudah siap membayar uang sebesar 120.000 untuk satu ampul obat yang katanya tidak berharga lebih dari 20.000 rupiah. Cerita ini sungguh aneh mengingat ada satu jamaah yang cerita kalo dirinya harus mengumpulkan paling tidak 10 orang untuk satu ampul obat. Karena tidak mampu menemukan, maka dia bergegas ke Halim Perdana Kusuma untuk mendapatkan vaksin. Sekali lagi, sungguh malang tidak dapat ditolak. Sesampaiknya disana, dia harus mendapati bahwa Halim tidak lagi menerima suntik vaksin karena jatah 200 sudah penuh. Akhirnya dia lari ke Soekarno - Hatta hanya untuk mendapati dia dan semua yang ada disitu juga tidak bisa mendapatkan vaksin tepat waktu.

Yang paling menyedihkan adalah cerita seorang ibu yang khusus datang dari Yogya hanya untuk mendapatkan vaksin. Beliau sudah mencari se-yogya untuk itu, namun nihil hasilnya. Tidak ada satu rumah sakitpun yang mau melayani vaksin meningitis. Ironis memang mengingat anaknya adalah seorang dokter, dan anak itu sampai putus asa mencari vaksin untuk sang Ibu agar beliau bisa menunaikan umrah. Inilah akibat kebijakan sentralisasi vaksinasi. Sebuah kebijakan yang sangat idiot! Beruntung bagi Ibu itu, dia bisa masuk daftar penerima vaksi gelombang kedua dengan nomor urut 8. Namun....nomer penerima vaksin hanya sampai 120, gelombang 1. MOHON Dicatat..gelombang dua itu ada 170 orang.

Kesedihan, kemarahan dan kekecewaan para jamaah umrah belum selesai sampai disitu. Saat petugas memberitahu bahwa mereka belum tahu kapan vaksin itu akan tiba, semburat kekecewaan meluap. Banyak ibu-ibu yang cukup emosi dan mengata-ngatai pemerintah. Beruntunglah..tiba2 ada secercah harapan ketika petugas itu bilang akand atang 500 ampul vaksin pada jam 3 (setelah sebelumnya bilang jam 2) dari tanjung priok.

Well, jiwa gilaku berontak melihat ketidakpastian seperti itu. Pertama, aku cek ke beberapa rumah sakit untuk mendengar apa benar vaksin itu memang sudah "dikosongkan" demi kebijakan baru pemerintah. Dan benar saja..RS Haji maupun JMC. Dokter bandara sempat memberi rekomendasi untuk ke rumah sakit bintaro atau pondok indah. tapi ada beberapa calon jamaah yang mengaku sudah kesana dan pulang dengan tangan hampa. akhirnya, aku nekat langsung ke Tanjung Priok untuk mengetes. Ternyata tebakanku benar, disana hanya tersedia 10 ampul, masing2 untuk satu orang. Petugas disana mengatakan bahwa tadi petugas dari Soekarno-Hatta memang menelpon dan meminta stok vaksin. Namun karena keterbatasan stok, dia tidak bisa memberikannya. Dan aku sebenarnya cukup beruntung..sangat beruntung bahkan..karena kenekatanku itu, aku malah boleh suntik vaksin disitu, padahal petugas umrah bilang tidak boleh. Namun sekali lagi..aku membayar sangat besar untuk itu. Harga vaksin yang ternyata disitu 144.000 dihargai 250.000. Yah..apa mau dikata. Sehari lalu aku memeras otak, menenangkan hati dan mengeluarkan 250.000 plus semua ongkos transportasi dan berlari-lari dari bandara terminal 2 ke medical centre dan kembali ke terminal 1 hanya untuk selembar kartu kuning yang rupanya bukan dikeluarkan oleh pemerintah RI tapi oleh WHO...

Pemerintah memang layak disalahkan untuk hal ini. Mereka, SEKALI LAGI, membuat atau mematok kebijakan tanpa menyiapkan dulu sarana dan prasananya. Mereka pasti sudah menyadari sebelumnya reaksi dari jamaah dan bagaimana mereka akan dengan segala upaya mendapatkan vaksin. dengan hanya memusatkan tempat vaksinasi di 2 tempat yaitu halim dan soekarno-hatta airport, mereka seharusnya sudah jauh2 hari menyediakan stok yang memadai. Sungguh tolol juga melakukan sentralisasi vaksinasi seperti ini. Bagaimana nasib jamaah yang berasal dari luar daerah?? Haruskah mereka terbang ke jakarta hanya untuk vaksinasi dan mendapat selembar kartu kuning sebagai persyaratan dari visa umrah?? Rupanya keluarga di solo sangat lah beruntung. Di tengah semua penarikan obat ke jakarta, mereka masih bisa mendapatkannya di sebuah klinik dekat bandara yang diduga sebenarnya adalah pos kesehatan bandara itu sendiri. Dan ketika aku mendapatkannya di klinik terminal pelabuhan tanjung priok, aku mulai bertanya-tanya. Sebenarnya permainan macam apa ini??? Apa departemen kesehatan dan agama "bersekongkol" untuk mengumpulkan dana segar untuk "dinikmati" bersama??

apalah jadinya negara ini bila ibadahpun dijadikan sarana untuk berbuat dosa. Akan dibawa kemana iman dan hati nurani kita?? Dan sampai kapan kita akan belajar bahwa membahagiakan orang lain dan memberikan yang terbaik dari diri kita adalah ibadah yang tiada duanya??

Dan semoga Tuhan mengampuni dosa kita semua...

.

Thursday, April 10, 2008

MemperSULIT ibadah UMRAH

Insya Allah...tanggal 24 April nanti daku mau menunaikan ibadah haji bersama keluarga.
Sungguh ini merupakan momen yang berharga banget
pergi umrah adalah janjiku ke Allah beberapa tahun lalu
Alhamdulillah..akhirnya sekarang diberi kesempatan untuk benar-benar memenuhi janji itu..

tp sungguh...memenuhi janji berumrah itu tidak mudah. banyak sekali rintangannya...sebenarnya bukan rintangan yang gimana ya...Lebih tepatnya kesulitan untuk menjalankan dan memahami serentetan peraturan baru yang diterapkan pemerintah dalam mengatur tata laksana umrah. Kesulitan pertama adalah harus ada 3 nama dalam passpor dengan tambahan nama BINTI..dan lucunya, Binti tidak dihitung. Walhasil, tante yang cuma punya satu nama dan kakek yang juga kebetulan satu nama bingung harus bagaimana. Akhirnya...dibuatlah nama sampai ke kakek buyut. OMG...peraturan macam apa ini>? peraturan untuk menguntungkan dinas imigrasi????

persoalan yang kedua muncul setelah tanggal 8 April kemarin ketika pemerintah menetapkan semua jemaah umrah harus disuntik meningitis. Selama ini, peraturan ini hanya berlaku untuk peserta haji saja. Lebih lucunya lagi, peraturan ini langsung diterapkan bagi mereka yang umrah tgl 8 kmrn, padahal vaksin meningitis baru akan bekerja setelah hari ke 10. Lucu bukan??? lebih konyolnya lagi, semua suntik meningitis skrg dipusatkan di jakarta, tepatnya hanya di 2 tempat, Bandara Soekarno Hatta dan bandara Halim Perdana Kusuma. Semua stok vaksin meningitis di daerah di tarik. Inilah yang kuketahui dari tante yang berdomisili di Solo. Sungguh sebuah kebijakan yang sangat tidak bijaksana. Konyolnya lagi, suntk meningitis untuk umrah tidak boleh dilakukan selain di 2 tempat tersebut. Bagaimana dengan mereka yang tinggal di luar jakarta??? Apa sebenarnya alasan dibalik peraturan maha konyol ini???

oohhh..sungguh sebuah departemen agama yang komersial. Saya sebagai warga negara sungguh malu melihat sebuah departemen agama yang tidak beragama...